kata saya


3G, Kesuksesan Di Tengah Banyak Kesangsian
Oktober 8, 2007, 6:58 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Teknologi yang satu ini memang tidak pernah habis untuk dibahas. Semenjak dioperasikan secara komersil satu setengah tahun lalu, 3G mampu melebarkan sayapnya menjangkau konsumen kelas menengah atas di Indonesia.

Keunggulannya adalah memungkinkan penggunanya saling bertukar data dan informasi dalam bentuk suara, gambar, video secara bersamaan dengan kecepatan tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Saat ini saja, jumlah pelanggan 3G Indonesia masuk dalam 10 besar dunia setelah Jepang, Korea, Taiwan, Cina, Hongkong, Inggris, Perancis, dan Jerman. Dua setengah juta nomor yang ada, dimiliki oleh Indonesia.

Keberhasilan itu tidak lepas dari banyak perdebatan dan kesangsian banyak pihak. Dibeberapa Negara besar, teknologi ini gagal bersaing dengan 2G (SMS) atau 2,5G pada GPRS dan UMTS. Investasi yang mahal, standar yang belum jelas, ketersediaan ponsel yang terbatas, tariff terlalu tinggi, segmentasi konsumen terbatas, dan publikasi yang minim, disinyalir sebagai alasan kenapa Singapura dan Negara lainnya sempat menunda peluncuran teknologi ini.

Tapi tidak demikian untuk Indonesia. Di tahun 2003, pemerintah mulai membuka tender lisensi 3G tanpa publikasi dan konsultasi public. Ini memunculkan pesimisme masyarakat dan pemerhati teknologi akan kesuksesan teknologi itu. Tapi nyatanya, operator justru menanggapi sebaliknya. Hitung-hitungan bisnis menjadi optimisme tersendiri untuk para operator. Mungkin factor yang mereka lihat adalah suksesnya DoCoMo di Jepang dalam menerapkan 3G. Dan kecenderungan masyarakat Indonesia yang menganggap 3G sebagai trend gaya hidup.

3G Dan Gaya Hidup

Teknologi tidak disangkal telah menjadi suatu trend tersendiri dikalangan pemakainya. Mulai dari anak SD sampai kakek-nenek, hampir semua melek kata yang dimulai dengan huruf “T” ini. Sekalipun pengetahuan setiap genre usia ini berbeda-beda, nyatanya kemampuan dan kemauan mereka untuk memiliki jenis “T” terbaru tidak terbantahkan, meskipun kebutuhan atau fungsi “T” ini sendiri dinomorduakan.

Sikap masyarakat Indonesia yang cenderung konsumerisme ini, dimanfaatkan oleh vendor telekomunikasi untuk menjual berbagai jenis handphone yang mendukung fasilitas 3G dengan harga kompetitif. Lihat saja, sebelum resmi diluncurkan, sudah ada sekitar 500.000 pengguna ponsel 3G. Bukan hanya title ‘keren’ saja yang melekat pengguna 3G pertama, tapi juga menunjukkan animo masyarakat yang besar akan barang baru dipasaran.

Konten dalam handphone 3G seperti “mobil TV live” dan “mobile video streaming” seolah membenarkan pola konsumerisme masyarakat bahwa 3G mampu menjadi trend baru hidup mereka.

Mudahnya, memiliki teknologi 3G ini memudahkan masyarakat dengan mobilitas tinggi mengakses berbagai informasi secara cepat dan mudah. Ditambah lagi, meningkatnya prestise mereka dimata orang-orang sekelilingnya tatkala mereka paham dan up-to-date segala yang berbau teknologi 3G ini.

Kesangsian yang Membuahkan Kesuksesan

Gembar-gembor masuknya 3G ke Indonesia di tahun 2003 memang sudah menyedot perhatian para pengguna seluler. Ini tidak lain karena proses tender lisensi 3G dari pemerintah, dilakukan secara tiba-tiba dan tidak transparan. Masyarakat hanya tahu bahwa pemenang tender 3G saat itu adalah PT Cyber Access Communication (CAC).

Selang setahun dari kemunculan operator seluler pertama, PT Natrindo Telepon Seluler (Lippo Telecom) ditunjuk oleh pemerintah untuk memegang lisensi yang sama. Banyak kalangan menyayangkan sikap pemerintah tersebut.

Pertama, lisensi haruslah diberikan kepada perusahaan yang mampu membangun jaringan. Dari sekian banyak pilihan operator seluler, mengapa PT CAC yang terkenal dengan pakan ternak dan Lippo Telecom yang hanya mampu menjangkau pengguna seluler jauh dari rata-rata operator lainnya, justru menjadi pihak yang dipercaya oleh pemerintah memegang lisensi teknologi baru tersebut?

Belum berhasil menjawab pertanyaan diatas, tahu-tahu kedua perusahaan sudah menjual sahamnya kepada perusahaan asing, dengan alasan untuk mengundang investor membangun jaringan telekomunikasi.

PT Cyber menjual 60% sahamnya kepada Hutchison Telecommunications International Limited (HTIL) Hongkong senilai US$ 120 juta dan Lippo Telecom mengakuisisi 51% sahamnya kepada Maxis Communication Bhd senilai US$100 juta. Tapi, penjualan saham tersebut tidak lantas membuat kedua perusahaan membangun jaringan 3G di Indonesia.

Dampak dari akuisisi saham oleh perusahaan asing tersebut menyebabkan kredibilitas pemerintah menurun di mata publik. Keinginan pemerintah untuk meningkatkan layanan telekomunikasi, terutama target untuk meningkatkan jumlah pelanggan telepon di Indonesia melalui tender 3G ini, dalam 2 tahun tidak tercapai.

Tidak terpengaruh dengan isu penjualan saham, dalam kurun waktu enam bulan terhitung dari bulan Mei-Oktober 2005, Telkomsel, PT.CAC, Indosat, dan XL berhasil melakukan uji coba 3G di beberapa lokasi domestik dan internasional dengan melibatkan beberapa vendor teknologi komunikasi.

Baru kemudian pemerintah turun tangan dengan penyusunan regulasi tentang 3G dan relokasi frekuensi pita 3G dibulan Oktober-Desember 2005. Pelelangan berikutnya meloloskan tiga peserta, yaitu operator PT Telkomsel, PT Indosat, dan PT Exelcomindo.

Mesti terlambat dibandingkan dengan negara lainnya, implementasi layanan 3G di Indonesia yang diluncurkan pertama kali pada September 2006, mendapatkan tanggapan positif dari pengguna seluler.

Tidak sayang apabila investasi operator pemegang lisensi 3G harus menguras kocek lebih dari 500 milliar. Dalam tender terbuka, Telkomsel menawar Rp. 218 milliar, Xl dengan Rp. 188 miliiar dan Indosat Rp. 160 milliar. Belum lagi, operator harus merogoh kocek membangun infrastruktur. Xl misalnya, sudah menghabiskan 100 juta dollar AS, dan Telkomsel Rp. 3 triliun tiga tahun (Kompas, Kamis, 30/7/2007).

Strategi dalam berbisnis pun ditingkatkan pada tahap komersialisasi. Setiap operator menyadari, untuk dapat dikatakan sukses, jenjang waktunya tidak hanya dilihat masa booming saja. Melainkan bagaimana teknologi ini bisa dan dengan seterusnya dipakai oleh masyarakat disemua kalangan. Oleh karenanya, setiap operator menyadari bisnis di layanan 3G memang membutuhkan kerjasama banyak pihak, seperti vendor ponsel, vendor teknologi, pemerintah, content provider, media massa, dan institusi lainnya.

Sekalipun ada anggapan bahwa gegap gempita 3G saat ini mulai surut, kenyataan yang ada justru sebaliknya. Operator sadar bahwa untuk meningkatkan jumlah pelanggan 3G, maka konten-konten harus lebih menarik dan edukatif dengan menunjukkan kelas berbeda dibandingkan era 2G.

Ditambah dengan kemunculan ponsel murah, tidak disangkal kesuksesan teknologi 3G akan terus berlanjut layaknya era 2G terdahulu. Ini mengingat karakter masyarakat Indonesia yang menyukai produk canggih, dan selalu ingin mencoba inovasi baru.

Dyah Ayu Sitoresmi
Staf salah satu anggota Parlemen Indonesia


Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>