Diarsipkan di bawah: Uncategorized
“Arini, perempuan 24 tahun. Sebagai perempuan, dia terlihat lebih kurus daripada teman lain yang seusia dengannya. Tinggi 170 cm, tapi beratnya cuma 45 kg. Bukankah itu kurus langsing dan tipis?
Kenapa Arini bisa sekurus itu? Ternyata Arini memang perokok berat. Ia mulai merokok sejak kelas 2 SMP. Jadi kira-kira sudah 11 tahun dia merokok. Arini kuat merokok karena dia pikir rokok bisa membantunya konsentrasi dalam bekerja. Tapi, beberapa hari ini dia tidak kelihatan. Dia diopname karena kanker paru-paru.
Suka tidak suka, vonis penyakit itu yang memutus rantai persahabatan Arini dengan rokok. Sesal kemudian tidak berguna. Itu yang sekarang Arini rasakan sobat GoGirl! Seandainya dulu dia mau menuruti perkataan Ibunya, seandainya dulu dia tidak mencoba sebatang, seandainya, seandainya, dan seandainya yang lain.
Satu diantara kita mungkin berada dalam posisi Arini. Lantas, haruskah kita memutuskan berhenti merokok setelah bernasib sama dengan Arini? Absolutely No!!! Kita bisa dari sekarang menyatakan perang dengan rokok. Ada 10 alasan kuat yang bisa membantu kita untuk sadar, ngerokok itu tuh gak ada keren-kerennya, dan gak ada untungnya buat tubuh kita.
Kesehatan vs Ekonomi
Setiap satu menit, satu orang meninggal karena efek negatif rokok. Ini bukan hal yang patut dianggap enteng. Di dalam rokok, terkandung lebih dari 3000 zat kimia. Dari jumlah itu, 43 diantaranya merupakan zat karsinogenik. Ada tiga komponen zat utama yang memicu kanker, yaitu nikotin, tar dan karbon monoksida.
Pada tahun 1942, Dr. Lenox Jhonston membuktikan nikotin sebagai zat adiktif golongan mood altering drugs (kategori obat penenang). Nikotin menimbulkan rasa tenang, sebagai senyawa alkaloid dalam tembakau, nikotin mampu menembus aliran darah otak, bereaksi di sistem saraf pusat dan mempengaruhi kerja beberapa bagian tubuh kita. Zat inilah yang kemudian menyebabkan kaum perokok kecanduan.
Tar sendiri beresiko untuk menyebabkan kanker, sedangkan karbon monoksida yang terbentuk saat pembakaran kertas pembungkus, menyebabkan suplai oksigen ke seluruh tubuh terhambat. Tidak heran bila perokok rentan terhadap penyakit saluran pernapasan, radang mulut, pilek, batuk dan amandel.
Itu baru penyakit yang ringan lho. Efek jangka panjangnya adalah stroke, kanker dan penyakit jantung yang beresiko 4x lebih besar dari yang tidak merokok. Dari semua akibat itu, yang perlu diwaspadai dari efek merokok adalah terjadinya serangan otak (demensia). Ini akan menimbulkan kelumpuhan, dengan gejala awal kesulitan bicara, pusing sebelah, kesadaran turun, mudah lupa, kehilangan inisiatif dan sebagainya.
WHO sendiri mengemukakan, trend konsumsi tembakau mengalami kenaikan, dari 68% (1996), menjadi 72% (2001). Dan pada 2020, hampir 50% (sekitar 4,2 juta jiwa) kematian akibat tembakau kemungkinan akan terjadi di Asia, khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia.
Ironisnya, kesehatan selalu berbenturan dengan keadaan ekonomi suatu negara. Di Indonesia, orang miskin justru mengalokasikan 9% total pendapatannya untuk rokok. Dan karena industri rokok, devisa negara meningkat sebesar Rp. 27 trilyun di tahun 2004. Apa yang akan terjadi bila pemerintah menutup pabrik rokok? Dipastikan akan banyak sekali warga yang kehilangan pekerjaan..
Tapi sebenarnya kalau mau dihitung-hitung, devisa itu hanya ilusi belaka sobat GoGirl. Biaya kesehatan yang ditanggung oleh Pemerintah dan masyarakat akan sebesar 3 kali lipat dari cukai rokok yang didapatkan. Jadi, kalau cukainya Rp. 27 trilyun maka biaya kesehatannya sebesar Rp. 81 trilyun (alias defisit).
Membakar duit?
Konon katanya, budget rokok tidak akan menghancurkan jatah duit bulanan. Ini karena uang rokok dianggap menggantikan jatah makan harian. Padahal, perokok sendiri menganut istilah “Si KonDOm” (SItuasi, KONdisi, dan DOMpet). Dan mau disembunyikan sepintar apapun, kaum perokok nyatanya juga sering mengalami masalah keuangan lho.
Mungkin kalau cuma sebatang/dua batang belum keitung mahal, tapi kalau sudah berbungkus-bungkus sehari, siapa juga yang masih sok PD bilang rokok itu murah?
Viga misalnya, mengakui dirinya sebagai perokok berat. Dirinya mengakui, rokok itungannya bukan lagi ngebakar duit, tapi udah bikin api unggun pake duit.
“Gua kemaren check ada cerutu cohiba.. yang satu kotak isi 40 linting dijual seharga $20.000 shit man!! berarti one piece about $500 !!! sekali isep bakar duit almost 5 million rupiah! shitttt…” ujarnya.
Padahal kalo ditabung, itung-itung Macbook pasti udah ditangan kan?!
Peduli dengan Orang Lain
Satu hembusan napas perokok sangat berbahaya bagi orang yang tidak merokok (perokok pasif). Untuk usia di bawah 16 tahun, rokok mampu menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, bahkan hingga asma. Sedangkan untuk kategori usia di atas 16 tahun, asap rokok yang dihisap terus menerus dan dalam waktu yang lama akan menyebabkan kanker paru-paru.
Padahal, dalam scope internasional, sudah dicanangkan sebuah konvensi yaitu The Framework of Convention on Tobacco Control (FCTC) yang menjadi dasar hukum internasional untuk mengontrol peredaran tembakau dan rokok di seluruh dunia. Dalam konvensi tersebut, ditandatangani ketentuan terkait masalah rokok, termasuk larangan penjualan rokok bebas di sembarang tempat, khususnya kepada remaja berusia di bawah 18 tahun.
Di Indonesia sendiri, penerapan FCTC ini agaknya akan membutuhkan waktu lama. Buktinya, PP No. 19/2003 mengenai pelarangan merokok ditempat umum tidak berjalan efektif. Lagi-lagi semua itu karena terbentur dengan aset industri rokok sebagai tulang punggung penerimaan negara dan penyerap tenaga kerja.
The Gateway of Drugs
Satu hilang seribu berbilang. Rokok disebut-sebut sebagai gerbang utama para junkies. Asumi ini lahir dari 90% pecandu narkoba berawal dari perokok aktif. Alasannya simple, ingin efek yang lebih hebat dari sebatas rokok. Menurut The Community of Bioethics and Anti Tobacco –COMBAT- Indonesia, tingkat usia yang paling rawan disusupi barang laknat narkotika adalah usia dibawah 29 tahun. Di tingkat sekolah, level SMP adalah “pintu pertama” dari gateway drugs, dimana rata-rata usia sekolah tersebut berperilaku serba ingin mencoba-coba sesuatu dan usia krisis identitas.
Itulah rokok dan segala macam bahaya di dalamnya. Agak mengerikan juga bukan? Sobat Gogirls nggak mau kan terjerat dengan rokok, yang nantinya bisa mengarah ke konsumsi drugs?
Ingat Keluarga
Dampak ini akan berpengaruh ketika kita memutuskan untuk berumah tangga nanti. Racun dalam rokok akan menyebabkan kita susah untuk memiliki keturunan, dapat menyebabkan keguguran, kelainan pada janin, ataupun melahirkan dengan kondisi bayi tidak sempurna-alias prematur.
Dan kita yang memutuskan untuk menikahi pria perokok, maka resiko terkena kanker paru mencapai 20 sampai 30 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang pasangannya tidak merokok. Jadi, sudah siapkan untuk meninggalkan rokok dari sekarang dan mengkampanyekan anti rokok bagi pasangan kita juga!
Teladan Buruk
Tjandra Yoga Aditama, Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, menuturkan “kemungkinan menjadi perokok pada anak-anak akan lebih tinggi pada orangtua yang satu atau keduanya perokok. Di Amerika misalnya, remaja perokok lima kali lebih banyak pada mereka yang orangtuanya perokok dibandingkan dengan orangtua yang tidak merokok.”
Ini membuktikan bahwa merokok menimbulkan tauladan buruk bagi anak remaja, yang masih mencari identitas baru bagi pergaulan, dan sangat gampang tergiur dengan pengaruh iklan rokok di mana-mana.
PD Terus Tanpa Rokok
Alasan untuk mencoba menghisap rokok macam-macam. Ada yang karena gengsi, gaya hidup, iseng, atau hanya ingin terlihat macho dan gaul. Bahkan menurut data The Federal Office on Smoking and Health, setiap harinya ada 6000 remaja yang baru merokok sedangkan 3000 remaja tadi kemudian menjadi perokok aktif.
Karena itu banyak perusahaan rokok yang membidik kaum muda. Tahukah GoGirl kalau Philip Morris membayar USD 42,000 dalam film Superman II agar sang manusia baja tersebut menghancurkan sebuah truk Marlboro? Suka tidak suka, usaha tersebut cukup berhasil menggaet remaja untuk mencicipi rokok.
Tapi sebagai remaja, sadarkah kita bahwa alasan coba-coba karena gengsi justru menjadikan kita makin tidak PD. Bau mulut dan pakaian, plak hitam pada gigi, wajah kusam dan muncul banyak kerutan. Mungkin awalnya kita tidak peduli, tapi siapa juga yang tetap tidak perduli kalau ada orang yang nyeletuk bilang kita sebagai ‘tante’ atau ‘ibu’? padahal kita sepantasnya disebut ‘kak’?
Motivasi Dari Sang Doi
Love can defeat all bariers, including smoking habit. Yup, bener banget kalau salah satu alasan untuk berhenti merokok tidak lepas dari dorongan orang yang kita sayangi. Walau tidak jarang ditemui, alasan kita meninggalkan rokok karena sang doi mengancam untuk putus.
Sekarang ini, udah gak jaman ber-ngebul-ria. Kita justru serba salah kalau begitu sudah membuka tas, mengambil bungkusan rokok, mengeluarkannya sebatang dan mematiknya dengan api lalu mengebulkan asapnya ke udara, sementara sang pacar dengan sigap beraksi tutup hidung. Isapan rokok kedua sudah tidak terasa nikmat karena perasaan bersalah dengan sang pacar. Akhirnya boro-boro menghayati, justru rokok dihabiskan segera mungkin.
Agus misalnya, menyadari bahwa setiap dia mulai menyalakan rokok, sang pacar sudah mulai menjauh dan menutup hidungnya dengan sebuah tissue.
“Emang sih doi gak pernah bilang pantang punya pacar merokok, tapi dari sikap kelihatan kalau doi emang gak suka. Berhubung udah terlanjur sayang, makin ke sini gw juga udah gak sebanyak dulu ngerokoknya. Untung juga sih buat gw. Setidaknya duit sisa bisa gw beliin kado romantis,” ujar Agus.
Kebakaran
Memang sih kasus ini paling jarang ditemui. Kalau diitung-itung mungkin juga menjadi kasus yang paling bontot dapat sorotan publik karena jaman sekarang orang memang sudah lebih aware untuk meletakkan puntung rokok pada asbak. Apalagi untuk kehidupan urban yang dipadati dengan kegiatan di kantor, kampus dan mall yang selalu dipasangi tanda ‘not smoking area’. Tapi tetap saja, ini perlu menjadi perhatian kita semua.
Atau kalau kurang mengesankan, paling tidak ada orang yang marah-marah kepada kita karena tersulut rokok atau ketiban abunya. Bahkan, kita pasti ingat sudah berapa celana atau baju kita yang bolong karena rokok. Kalau jeans-sytle sekarang emang lagi jamannya robek-robek, tetep aja jeans bolong karena rokok tidak akan pernah menjadi mode kan?.
Sama Sekali Bukan Tindakan Cerdas
Ketika menyalakan rokok, dalam benak sudah terlintas penyakit seperti kanker paru-paru, kanker tenggorokan dan penyakit jantung; akan menunggu kita beberapa tahun mendatang. Dan kita pun tahu, ada beribu alasan yang bisa mendorong kita untuk menghentikan kecanduan nikotin ini. Tapi pertanyaanya kemudian, kenapa masih kita lakukan?
Mungkin efek withdrawal dari berhenti rokoklah yang menyebabkan kita sukar untuk meninggalkannya sama sekali. Entah itu berbagai keluhan seperti batuk-batuk, pusing, sulit tidur, keluar keringat di malam hari, timbul rasa pahit dan asam di mulut.
Tapi sekali lagi, semua itu tentang pilihan hidup. Mau dibilang sok suci, atau gak have fun-lah, toh pilihan untuk berhenti merokok tidak akan menjauhkan dan merugikan teman-teman kita. Selama rasa soulmate masih ada, kita gak perlu takut kehilangan teman kok.
Sepuluh alasan itu semoga bisa menjadi your best shot to stop smoking. Gak gampang memang, tapi worthed to try lho….
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Oleh: Dyah Ayu Sitoresmi*
“I believe that education is the fundamental method of social progress and reform….society can formulate its own purposes, can organize its own means and resources, and thus shape itself with definiteness and economy in the direction in which it wishes to move” (John Dewey in My Pedagogic Creed, 1897)
Berfikir Kritis dan Berani Bertindak adalah Kita (Syahrir)
Pendahuluan
Pragmatisme merupakan kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan,dsb) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia dan seringkali mampu memberikan penjelasan yang berguna terhadap suatu permasalahan dengan melihat sebab akibat berdasarkan kenyataan untuk tujuan praktis. [1] Sedangkan apatisme biasa muncul untuk merefleksikan sikap yang acuh tidak acuh dan ketidakpedulian terhadap suatu permasalahan atau keadaan yang terjadi. [2] sekalipun bertolak berlakang, kata-kata tersebut merupakan dua istilah ladzim yang biasa dipakai oleh banyak orang untuk menggambarkan kekecewaan dan keadaan yang semakin menurun dari aktifitas yang biasa dilakukan.
Pragmatisme dan apatisme sudah mulai banyak menghinggapi sikap dan tindakan kaum-kaum muda intelektual bangsa dalam menilai suatu permasalahan baik yang terjadi di dalam ruang lingkup terdekat mereka di dalam dunia pendidikan seperti kampus dan secara bersamaan mampu memaksa kampus sebagai wadah pendidikan profesional untuk memenuhi berbagai macam tuntutan mahasiswa yang ada. Kaum-kaum tersebut beranggapan bahwa hal tersebut sebagai sesuatu hal yang lumrah di dalam era tuntutan ini. Mengapa? Karena percepatan arus teknologi yang tanpa batas dan arus informasi yang men”dewa”kan kebebasan berekspresi; tidak membatasi setiap orang untuk menuntut haknya mendapatkan akses informasi yang tersedia. Dengan adanya globalisasi, dan tersedianya banyak layanan untuk menerima unsur-unsur globalisasi; seringkali menjadikan kampus memperketat birokrasi yang ada untuk menahan lajur arus globalisasi tersebut.
Terpusatnya dosen-dosen dengan banyak gelar di satu tempat, dan lengkapnya akses atau peralatan pendidikan yang di terima di dalam suatu kampus, juga menjadikan sikap instan dan tanpa berfikir panjang menghinggapi kaum-kaum muda intelektual. Akibatnya, keinginan untuk mendapatkan kekuasaan terhadap suatu jabatan, dilakukan tanpa adanya persaingan yang bersih. Salah kaum elitkah? Mengingat rakyat bawah yang berkecenderungan untuk selalu mengikuti sikap dan tindakan kaum elitnya; atau mungkin salah rakyat bawah yang melakukan tindakan kaum elit tanpa memfilter terlebih dahulu apakah tindakan tersebut patut untuk ditiru atau tidak? Salah siapa dan mengapa, merupakan pertanyaan yang akan coba penulis jawab di dalam paparan karya tulis ini, terlebih dengan semakin besarnya sikap pragmatisme dan apatisme mahasiswa di dalam kehidupan kampus.
Tiga Kebijakan Kehidupan Kampus Masa Kini
Kampus, identik dengan kehidupan akademik. Kehidupan mahasiswa yang beragam dan unik, serta dalam setiap langkahnya pasti membawa cerita yang berbeda. Ada beragam sisi yang bisa kita lihat, sisi yang mampu membawa setiap insan mahasiswa yang terlibat di dalamnya untuk bercengkrama, berdiskusi, berpolitik kampus, ataupun hanya sekedar datang dan pulang tanpa membawa kesan. Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh kampus, seringkali dijadikan sebagai ajang perdebatan mengenai seberapa besar kepentingan mahasiswa terpenuhi dan seberapa tersalurkannya aspirasi mereka atas kebijakan itu sendiri.
Kampus, memiliki dunianya sendiri. Dunia dewasa yang penuh tantangan dan pilihan untuk memilih (being a winner or a looser). Dunia bagi mahasiswa untuk mencari dan membentuk jati dirinya. Suka ataupun tidak, hal tersebut memang terjadi di dalam kampus, dan memaksa banyak orang untuk mulai berfikir apa yang ada di dalam kehidupan kampus dewasa ini.
Pesta, buku dan cinta. Tiga paket kebijakan yang tidak pernah lepas dalam kehidupan kampus, dan identik dengan kehidupan mahasiswanya. Pesta bisa di artikan secara harafiah ataupun secara occasionally disesuaikan dengan keadaan yang terjadi. Tetapi, pesta sudah diidentikkan dengan keadaan bersenang-senang untuk menghabiskan uang dan mendapatkan kepuasan sesaat untuk kemudian ‘menagih’ pada hari-hari berikutnya. ‘Menagih?’ Well, itu kata-kata bagus yang penulis rasa bisa dimasukkan juga untuk membahas tiga paket kebijakan tersebut secara lebih detail.
Bersenang-senang atau pesta bisa dilakukan dengan banyak cara. Dengan didukung oleh jiwa muda mahasiswa yang menginginkan kebebasan dan penuh dengan sikap pemberontakan, pesta merupakan kegiatan menunjang yang mampu membawa aura orang dewasa untuk menjadi lebih muda dan bergairah. Adanya banyak kategori pesta yang bisa diartikan disini. Misalnya saja, pesta dugem. Dengan alunan musik, suasana malam yang dingin dan minuman beralkohol yang menghangatkan; pesta memiliki keistimewaan tersendiri. Dengan didukung oleh faktor masalah kehidupan yang berat dan keinginan untuk melepaskan beban permasalahan menumpuk, memaksa banyak orang untuk memilih pesta dugem sebagai salah satu alternatif yang dirasa mampu memenuhi sisi kesenangan yang hilang.
Musik memang tidak pernah lepas dari pesta, karena dengan musik, pesta yang diadakan menjadi lebih meriah dan tentunya saja menjadi lebih menyenangkan. Mahasiswa terus terang sangat menggandrungi musik dan mencari aliran musik yang sudah tentu sesuai dengan kepribadiannya. Munafik jika ada orang yang menyatakan dirinya tidak suka musik. Di dunia dugem, musik dialunkan untuk membawa pecinta dugem berbaur dengan komunitasnya. Selain itu, dinginnya malam dan minuman alkohol, merupakan pelengkap yang direfleksikan sebagai kekuatan dunia dugem yang dicari. Jenuhnya keseharian di dalam kampus, deadline tugas yang menumpuk, masalah organisasi dan percintaan yang tidak kunjung usai, merupakan faktor-faktor meningkatnya kecenderungan mahasiswa untuk menyukai pesta dugem. Dan kehidupan kampus, akan terasa sepi tanpa mengenal dugem.
Tetapi pertanyaan selanjutnya yang akan muncul adalah apakah harus menyelesaikan semua beban dan jenuhnya keseharian di dunia kampus dengan pesta dugem? Maka pengertian pesta yang lainnya muncul kemudian. Tidak banyak yang setuju bahwa dugem merupakan cara untuk menghilangkan penat yang ada, karena yang justru terjadi adalah pelarian sementara yang pada akhirnya justru akan mengarah kepada ‘ketagihan’. Sehingga pesta kemudian diartikan sebagai kegiatan bersenang-senang tanpa alkohol. Bagi sebagian mahasiswa, hanya dengan berjalan santai bersama-sama, menikmati pesta diskon di mal-mal, makan di banyak tempat dan diakhiri dengan ngobrol bareng, sudah merupakan pesta dan telah mampu menghilangkan penat mereka terhadap kehidupan kampus. Sehingga terlepas dari pesta apapun, kegiatan bersenang-senang merupakan kegiatan yang mampu melengkapi kebutuhan mahasiswa dewasa ini.
Buku, memang bagian penting dari mahasiswa; karena dengan buku mahasiswa akan menjadi lebih intelektual dan berbobot. Pengetahuan yang luas, prestasi yang memuaskan, merupakan hal yang didapatkan dari buku. Kampus sangat mendukung banyaknya referensi bacaan yang diharapkan mampu menjadikan mahasiswa merasa puas untuk memilih unversitas yang mereka masuki, serta sangat membantu mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya. Tetapi di sisi lain, buku ternyata merubah kepribadian seorang mahasiswa. Misalnya, seorang mahasiswa dulunya sangat bijaksana dan memandang segala sesuatunya dengan netral, tetapi setelah dia mengenal buku dan mempelajari buku tertentu dan akhirnya ‘ketagihan’, yang terjadi selanjutnya adalah mahasiswa tersebut menjadi condong dan beraliran kiri ataupun kanan.
Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan melalui buku, karena buku merupakan jendela dunia. Dan mahasiswa adalah kaum muda intelektual yang harusnya memahami pentingnya membaca buku.
Cinta anak kampus, merupakan kosakata yang paling banyak mendapatkan perhatian dari banyak kalangan. Banyak pengamat film misalnya, mengatakan bahwa cinta anak kampus merupakan tema yang paling banyak memikat hati penonton karena realita anak muda menuntut hal tersebut. Atau pemerhati musik beranggapan bahwa cinta merupakan bagian lirik yang paling banyak diminati oleh kaum muda.
Begitu pula yang terjadi dalam relita kehidupan kampus. Mahasiswa yang dalam masa pubertas, sudah mulai mencari cinta untuk melengkapi sisi kehidupannya. Ingin ada yang memperhatikan, ingin ada yang menyayangi dan berbagi, merupakan keinginan lumrah dari setiap mahasiswa saat ini. Namun seringkali tuntutan lingkungan anak muda untuk berbagi cinta justru menjerumuskan mahasiswa itu sendiri ke dalam jeratan cinta. Jeratan cinta? Kosakata apalagi ini? Ya, jeratan cinta seringkali memaksa mahasiswa untuk tidak berfikir rasional dan menganggap bahwa menjomblo (tanpa pacar) adalah hal yang tabu; sehingga seringkali mahasiswa menjadi salah kaprah dalam mencari cinta yang sesungguhnya. Salah kaprah yang dimaksud adalah mahasiswa seringkali memaksakan diri mereka untuk memiliki pacar tanpa mempunyai perasaan, pada akhirnya juga hal ini yang menjadikan mereka ‘ketagihan’. Yang terjadi kemudian adalah, prestasi mereka terganggu, kehidupan sosial mereka terganggu dan tentunya jiwa mereka juga terganggu. “Jangan pernah bermain cinta, karena mungkin cinta yang akan mempermainkan anda”, mungkin itu kalimat yang bisa dijadikan bahan renungan oleh mahasiswa di dalam kehidupan kampus.
Tiga kebijakan kehidupan kampus masa kini, dirasakan telah mampu melengkapi kehidupan mahasiswanya. Namun, hal mana dari kebijakan tersebut yang menjadi prioritas, kembali diberikan kepada masing-masing mahasiswa. Karena pilihan untuk mendahulukan pesta, buku ataupun cinta, pastilah memiliki konsekuensi masing-masing yang mungkin kadar dari konsekuensi tersebut juga ditentukan oleh mahasiswa itu sendiri melalui besar atau kecilnya intensitas dan keinginan mereka untuk ikut terlibat di dalamnya.
Globalisasi Informasi dan Pengaruhnya Terhadap Mahasiswa
Secara historis globalisasi berarti meluasnya pengaruh suatu kebudayaan atau agama ke seluruh penjuru dunia. Namun konsep dan istilah globalisasi yang digunakan semenjak tahun 1990-an, tidak dapat dipahami berdasarkan pengertian tersebut. Sebab, dalam istilah globalisasi saat ini terkandung sejumlah perkembangan terbaru di dunia, yang ditandai oleh sejumlah besar tendensi sosiologis yang amat kuat, yang tidak dikenal dalam masa-masa sebelumnya.[3]
Berbagai perkembangan yang terdapat dalam kandungan istilah globalisasi belum seluruhnya dapat diidentifikasi secara ilmiah dan secara budaya. Namun sudah ada sejumlah besar gejala yang terasa di depan mata,[4] seperti globalisasi informasi yang ada saat ini. Dengan semakin berkembangnya teknologi sebagai akibat dari globalisasi informasi, menjadikan pengguna media elektronik dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi yang terjadi di belahan dunia lain tanpa harus kita yang berada di sana.
Tidak adanya pembatasan, terlebih pada media informasi seperti internet, menjadi memungkinkan pengiriman jumlah informasi tanpa batas dan dengan biaya yang jauh lebih murah. Hal ini menimbulkan efek sosial budaya yang meluas dan sulit untuk diantisipasi. Terlihat disini bahwa tanpa disengaja, dan tanpa dimaksudkan, internet telah berperanan sangat besar sebagai the great equalizer, yang selalu menjadi cita-cita dalam pendidikan, tetapi juga selalu gagal diwujudkan oleh pendidikan. Pendidikan lebih sering memantapkan perbedaan sosial daripada mengurangi atau menghilangkannya.[5]
Dalam dunia pendidikan dan kehidupan kampus, pesta, buku dan cinta, menjadi sedemikian digemari oleh mahasiswa. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh adanya perkembangan globalisasi informasi yang tanpa batas. Dengan pesatnya globalisasi informasi, akses untuk mendapatkan berbagai kemudahan, memanjakan semua penggunanya; terlebih untuk kaum muda yang haus akan rasa ingin tahu. Budaya intelektual yang menumbuhkan ide – ide kritis baik itu dalam diskusi, tulisan ataupun organisasi semakin tidak menarik minat mahasiswa. Hal ini terbukti dengan semakin sedikitnya jumlah mahasiswa yang mengikuti berbagai diskusi yang diadakan oleh kampus, ataupun jumlah mahasiswa yang berminat untuk menulis di dalam jurnal mahasiswa yang sudah tersedia.
Bertaburannya media – media informasi yang lebih banyak membawa unsur hiburannya dari pada wacana – wacana politik semakin menyingkirkan pula sikap kritis mahasiswa terhadap isu yang sedang terjadi. Diskusi – diskusi ataupun seminar – seminar yang selalu mengangkat isu – isu serta wacana yang sedang terjadi hanya ditanggapi oleh sebagian kecil mahasiswa sedangkan sebagian besarnya lagi lebih asik nongkrong di mall atau cafe – cafe menceritakan gosip selebritis terbaru[6] ataupun gosip seputar kampus. Lebih peduli dengan infotainment yang gencar di tayangkan di televisi ketimbang dialog-dialog permasalahan dalam dan luar negeri, telah berkembang menjadi sesuatu yang sulit untuk diatasi.
Salahkah globalisasi informasi dengan keadaan yang demikian? Tidak ada yang bisa menyalahkan keadaan yang demikian. Perkembangan informasi dan lainnya, tidak bisa dipungkiri akan selalu membawa dampak yang positif dan negatif, karena kutub positif dan negatif akan selalu berada di sana untuk saling melengkapi. Namun, yang harus dilakukan kemudian adalah bagaimana meminimalisir dampak negatif tersebut dan menjadikan kembali mahasiswa sebagai kaum intelektual yang bukan hanya peduli terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap permasalahan bangsanya. Atau mungkin saja, keenganan mereka untuk mengurusi permasalahan bangsanya adalah sudah terlalu banyaknya masalah yang terjadi tanpa penyelesaian yang berarti. Akibatnya, mereka lebih cenderung untuk menikmati globalisasi informasi yang semakin mendekatkan mereka pada pesta, buku dan cinta.
Pragmatisme dan Apatisme Kaum Muda Intelektual
Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa pragmatisme dan apatisme muncul karena banyak faktor, baik karena semakin pesatnya akses kemudahan dari globalisasi informasi yang berkembang saat ini; atau bahkan sebagai bentuk reaksi lanjutan dari kekecewaan kaum muda intelektual terhadap permasalahan di dalam negeri ini. Pragmatisme dan apatisme, entah apapun pengertian terminologinya, pastilah seringkali diidentikkan dengan politik. Sedangkan politik sendiri, tidak akan pernah lepas dengan kekuasaan (power).
Terdapat banyak aktor yang turut andil dalam mengatur pergerakan di dalamnya. Salah satunya adalah mahasiswa sebagai penyokong perubahan politik itu sendiri. Keberadaan mahasiswa, baik di dalam dan di luar layar pergerakan perpolitikan, tidak pernah dianggap sebagai sebuah hal yang maya belaka. Walaupun kita semua tahu, tidak semua mahasiswa mengetahui politik dalam arti yang sebenarnya. Dari tuturan klasik dosen, ataupun kisah faktual ketatanegaraan; setiap mahasiswa memiliki definisi yang berbeda-beda dalam menafsirkan politik itu sendiri. Pengetahuan dan ilmu yang dimiliki oleh mahasiswa merupakan sebuah parameter tersendiri yang dapat dijadikan sebagai sebuah tolok ukur dalam menilai realita perpolitikan di dalam kampus atau bahkan untuk ruang lingkup yang lebih luas, yaitu pada tingkat ketatanegaraannya.
Ada banyak hal juga yang melatarbelakangi munculnya sikap pragmatisme dan apatisme kaum muda intelektual dewasa ini. Misalnya saja jika penulis kaitkan sedikit dengan keadaan perpolitikan Indonesia saat ini, budaya amplop untuk memenangkan proyek, budaya melakukan rapat tanpa maksud yang jelas demi hanya untuk menghabiskan anggaran yang diberikan, dan hal-hal lainnya yang dilakukan oleh aktor politik di Indonesia; jika ditarik sedikit kebelakang, pastilah juga berkaitan dengan kehidupan aktor-aktor pollitik tersebut pada jaman mahasiswa. Akibatnya, budaya tersebut menjadi mengakar dan sulit untuk di lepaskan. Salah elit yang dulunya juga bertindak demikian, atau justru salah kaum intelektual muda yang awalnya mengkritik mereka tetapi begitu mereka dihadapkan pada kekuasaan juga malah bertindak hal yang sama? Penulis pribadi pun takut untuk menjawabnya. Kenapa? Karena ketakutan untuk mengkritik akan berbalik arah pada penulis nantinya.
Tetapi itu dulu, ketika Soe Hok Gie dan teman-temannya masih berjuang untuk menjadikan perpolitikan di negeri ini menjadi lebih baik. Bahkan melalui tulisan kritisnya mengenai “Mahasiswa UI bopeng sebelah” karena ada pertarungan dua kubu kepentingan yang ingin menonjolkan back ground gerakannnya untuk menguasai politik kampus. Lalu apa yang akan dia katakan kemudian melihat realita yang terjadi saat ini, dimana sudah sangat jarang ditemui mahasiswa kritis yang mengkritik tanpa ingin mendapatkan reward atasnya?
Seperti yang telah terjadi kemudian bahwa akibat dari arus globalisasi informasi tanpa batas, menjadikan mahasiswa untuk apatis, lebih bersikap cuek dan semau gue. Sehingga mungkin lebih tepat apabila dikatakan bahwa sebagian besar mahasiswa Indonesia bopeng. Lihatlah bagaimana sering terjadi rebutan masa dunia kampus yang sudah melibatkan politisi, tetapi usaha untuk kembali membawa dunia intelektual yang kondusif belum kelihatan. Dan kemudian dibarengi oleh sikap pragmatis dari mahasiswa itu sendiri yang lebih mementingkan tujuan praktisnya tanpa berfikir lebih panjang sebab-akibat yang akan terjadi di belakangnya.
Tetapi, tidak pernah tidak, mahasiswa yang sudah berpedoman pada tiga kebijakan kehidupan kampus, dan pengaruh globalisasi ekonomi bagi kehidupan pribadi mereka, tetap akan memegang dan memainkan peranan yang sangat penting sebagai agen of chance dan agen of modernization dinamika kehidupan masyarakat saat ini.
Contoh lainnya adalah dewasa ini, demonstrasi mahasiswa semakin meluas. Tak jarang aksi tersebut diikuti dengan tindak kekerasan. Yang dapat terlihat dari kasat mata masyarakat perkotaan adalah sudah tidak murninya lagi aksi tersebut, sebagai akibat dari adanya pihak-pihak di luar mahasiswa yang kadang kala ikut menungganginya sebagai tindakan atas kepentingan pribadi atau kelompok. Orasi-orasi yang dikumandangkan ada kalanya tidak relevan, terlalu hiperbolis, terlalu memaksa, dan bersifat subyektif (tidak berdasarkan data); sehingga tak jarang pemerintah ataupun pihak yang berkuasa cenderung melecehkan mereka.
Dalam ruang lingkup tertentu, sebagian mahasiswa Indonesia mulai menganggap demonstrasi ataupun penyaluran orasi sebagai sesuatu yang membosankan, membuang-buang waktu, dan tidak bermanfaat. Hal ini terlihat dari banyaknya opini mahasiswa terhadap rekan-rekannya yang berdemonstrasi di luar kampus. Mereka berkecenderungan untuk berfikir bahwa belajar di kampus, mendapat indeks prestasi yang tinggi agar cepat lulus, sehingga dapat secepatnya merasakan dunia kerja; adalah sesuatu yang utama dan sangat dinanti-nantikan. Tapi ketika mereka memimpikan hal tersebut, mereka lupa bahwa idealisme dan daya kritis –hal yang sangat melekat dengan jiwa mahasiswa- menjadi terpendam atau boleh jadi hilang. Jika semua hal ini terjadi, maka pesta, buku dan cinta sebagai tiga kebijakan kehidupan kampus bisa dianggap menjadi tidak seimbang.
Mulai tumbuhnya gejala pragmatisme dan apatisme dalam pergerakan mahasiswa tersebut, juga terlihat dari kecenderungan untuk tidak perduli dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Berkembangnya sikap individualistik yang berkembang ke arah hedonistik mengakibatkan pasifnya keinginan untuk ikut terlibat dalam gerakan mahasiswa. Sehingga tidak jarang kemudian, ketika mereka mencoba untuk berpolitik, aktivitas politiknya lebih didasari pada anggapan bahwa politik itu kotor dan tidak manusiawi. Hal tersebut secara tidak langsung tercermin pada orasi-orasi yang diutarakan. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, akan timbul rasa tidak percaya dan curiga terhadap siapa saja yang menjalankan roda pemerintahan ini.
Kita semua tidak bisa memungkiri, seseorang yang pada dasarnya mempunyai prinsip untuk menjalankan politik dengan jujur, transparan, dan mengenali aspirasi rakyatnya; jika berhadapan langsung dengan kekuasaan yang mengekangnya dan sistem perpolitikan itu sendiri –yang mana dalam pengambilan kebijakan harus mengorbankan satu pihak demi pihak lain- pasti akan terdesak dan pada gilirannya akan mengamininya.
Mewabahnya pragmatisme dan apatisme mahasiswa Indonesia sekarang ini, secara tidak langsung bisa berdampak menekan tingkat kreativitas dan objektivitas -yang melatarbelakangi munculnya sikap kritis terhadap masyarakat dan Pemerintah- mahasiswa itu sendiri.
Dampak Sikap Pragmatisme dan Apatisme yang Mengakar
Munculnya ketakutan bahwa kecenderungan sikap instan dan tanpa berpikir panjang akan mampu mengarah ke sikap pragmatisme dan apatisme dari kaum intelektual mahasiswa, memang patut di waspadai. Realita yang terjadi belakangan ini mengenai semakin kerasnya globalisasi informasi menyerang mahasiswa tanpa adanya filter yang bisa menyaringnya, akan mampu mengoyak realita dengan mimpi-mimpi belaka.
Lihatlah bagaimana antusiasnya kawula muda untuk menonton tayangan MTV atau katakan cinta dari pada berduyun duyun melihat dan merasakan langsung dialog – dialog politik dalam negeri.[7] Lihatlah pula bagaimana kaula muda berbondong-bondong untuk menonton konser musik, dibandingkan harus duduk mendengarkan seminar mengenai keadaan perpolitikan atau permasalahan di dalam negerinya. Mahasiswa sering lupa bahwa ketika mereka lebih senang menikmati pesta, dan mereka sudah enggan untuk mendengarkan atau mungkin mengkritik perpolitikan di negerinya, mereka tidak sadar bahwa masa depan negaranya di tentukan oleh tangan-tangan mereka.
Apa jadinya pula ketika kebijakan pesta, buku dan cinta tidak dapat berjalan seimbang? Sedangkan pergerakan globalisasi informasi semakin meyebar tanpa pegangan. Yang ada adalah kaum muda melarikan diri dari masalah dan meninggalkan bopeng-bopeng yang semakin menganga dan menyerahkan sepenuhnya hanya kepada harapan-harapan palsu. Saling menyalahkan, kemudian menjadi budaya baru yang mengakar mengikuti sikap instan, pragmatisme dan apatisme yang sekarang sudah mulai menyebar.
Penyadaran untuk kembali mengkondusifkan suasana berpikir kritis dan berani bertindak membutuhkan waktu tidak sebentar, namun usaha – usaha menghidupkan kembali melalui diskusi – diskusi kecil yang bisa menjadi bola salju yang besar masih terus berjalan dengan masih hidupnya organisasi pro demokrasi yang pernah jaya pada jamannya. Selain itu pola pikir yang tumbuh dalam jiwa – jiwa muda yang progresif harus bisa menggugah sebagian mahasisiwa lainnya untuk sama – sama bergerak membangun bangsa dengan kemampuan berkarya masing – masing.[8]
Adalah tugas bagi kita untuk tidak membiarkan hal tersebut menyebar atau bahkan mengakar lebih dalam lagi. Karena mahasiswa Indonesia di dalam kehidupan kampus yang seimbang, adalah harapan rakyat dalam mengontrol jalannya pemerintahan dengan menjunjung moralitas, bersih, dan mampu membawa Negaranya ke arah yang lebih baik.
Penutup
Istilah pragmatis dan apatisme mahasiswa di dalam kehidupan kampus sering menjadi perdebatan yang serius bagi sesamanya. Menanggapi derasnya arus globalisasi informasi yang masuk ke dalam dunia-dunia kampus juga di dukung oleh kebijakan yang melegalkan pesta, buku, dan cinta di dalam kehidupan kampus. Adalah hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa pesta, buku, dan cinta memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan gejala-gejala tersebut. Adanya pilihan-pilihan untuk menjadikan salah satunya sebagai prioritas, merupakan konsekuensi yang akan di hadapi oleh masing-masing mahasiswa. Tetapi ketika semuanya menyerahkan hal tersebut kepada individu masing-masing tanpa didasari oleh keinginan untuk memperbaiki dan memperhatikan keadaan sosial yang terjadi di lingkungannya; maka apalah jadinya bangsa ini nantinya?
DAFTAR PUSTAKA
Website:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/07/0802.htm.
Buku:
Kamus Besar Bahasa Indonesia., 1989,. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Balai Pustaka.
* Mahasiswi Semester 6 Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik. Npm: 2003330195
1. Kamus besar bahasa Indonesia, departemen pendidikan dan kebudayaan. 1989. balai pustaka.
[2] Ibid
[3] http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/07/0802.htm. Johan P. Wisok, “Globalisasi, Informasi dan Akibatnya”. Diakses tanggal 29 April 2006 jam 08.45 WIB.
[4] ibid
[5] ibid
[6] http://isola-pos.upi.edu. Iden wildensyah,. “Apatisme Dan Potret Kelam Mahasiswa” diakses tanggal 28 April jam 23.00 WIB.
[7] Iden wildensyah, loc. cit.
[8] ibid
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Berbicara mengenai Enterpreneur maka yang tersirat dalam pemikiran kami adalah seorang enterpreneur merupakan orang yang selalu berusaha dan mampu melihat peluang dari bidang-bidang yang dijalaninya untuk menciptakan kesempatan-kesempatan bisnis yang dapat meningkatkan ekonomi sang enterpreneur tersebut. Enterpreneur juga merupakan orang yang berani mengambil resiko untuk mewujudkan cita-cita yang ingin dicapainya. Entrepreneur identik dengan membangun usaha dengan modal sendiri ataupun dengan modal orang lain tetapi sedari awal orang tersebut ikut terlibat dalam pengelolaannya. Menjadi entrepreneur bukan persoalan mudah layaknya membalik telapak tangan. Tapi proses untuk memilih menapaki bidang itu dan menjaganya untuk tetap menjadi berhasil, adalah suatu usaha yang perlu diacungi jempol. Nilai (Value) dalam diri enterpreneur merupakan syarat yang utama yang menentukan berhasil atau tidaknya seorang enterpreneur tersebut.
Value yang dimaksudkan disini adalah :
- Semangat yang besar. Semangat yang besar menjadi modal pertama seorang enterpreneur. Semangat ini tentu saja akan mendorong enterpreneur tersebut untuk berusaha keras dalam usahanya dan dapat menjadi motivasi juga bagi bawahan/pekerjanya.
- Mencintai dan menjiwai bidang yang ditekuni. Ketika seorang enterpreneur memiliki nilai menjiwai ini maka otomatis dalam menjalankan usahanya sang enterpreneur akan lebih serius dan enjoy.
- Persistant. Enterpreneur yang persistant adalah enterpreneur yang “tahan banting”, “ngotot” dalam arti positif untuk mencapai apa yang diinginkannya, tidak gampang menyerah dan putus asa.
- Mau berubah, dalam artian enterpreneur harus mau menerima perubahan yang terjadi di lingkungannya, menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut dengan menggunakan kreatifitas dan inovasi-inovasi.
Nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang enterpreneur itulah yang akan menentukan arah gerak sebuah usaha yang dijalankan.
Banyak orang berpendapat bahwa entrepreneur adalah menjadi mandiri dengan tantangan akan resiko-resiko dalam berusaha. Tapi menurut kami, bukan itu saja modal yang diperlukan untuk menjadi entrepreneur. Sekalipun apa yang kami utarakan hanya pandangan subjektif semata, tetapi kami tetap sependapat dengan filsuf mengenai pembagian manusia menjadi tiga tipe, yaitu tipe pemikir, tipe pekerja dan tipe pemikir dan pekerja. Kami menilai bahwa keberhasilan menjadi seorang enterpreneur harus memenuhi tiga hal ini. Pertama, punya modal, kedua punya pemikir, ketiga punya pekerja. Idealnya, keberhasilan dicapai apabila seseorang memiliki modal, tipe pemikir dan tipe pekerja. Tetapi bukan berarti pilihan lainnya dianggap gagal. Apabila ada seseorang yang hanya punya modal, tetapi selama dia pun bisa mencari pemikir dan pekerjanya, dia tetap berhasil. Atau apabila tipe pemikir memilih menjadi enterpreneur, apabila dia diberi modal dan ada orang yang bisa dipekerjakan, dia akan tetap bisa berhasil. Tipe terakhir, si pekerja, apabila dia tetap punya modal, dia bisa menyewa atau menggaji seorang manajer, dan dia tetap bisa berhasil. Dan kita semua, memiliki tipe itu.
Kami pribadi lebih tertarik untuk menjadi enterpreneur daripada profesional karena :
- Dengan enterpreneur kami bisa memvisualisasikan ide-ide dan keinginan-keinginan dalam berusaha,
- Menciptakan lapangan kerja baru ditengah persaingan memperoleh lapangan pekerjaan yang terjadi sekarang ini,
- Gerak enterpreneur tidak dibatasi oleh hal-hal tertentu seperti yang terjadi dalam bidang profesional. Enterpreneur lebih dapat bergerak “luwes” sehingga mampu menginterpretasikan apa yang ada dalam pemikirannya,
- Menjadi enterpreneur berarti menjadi seorang pemimpin dan decision maker. Hal ini dapat melatih kita untuk bisa mengambil keputusan sendiri dan mempertimbangkan pilihan mana yang kiranya menguntungkan untuk kita semua. Yang lebih kita tekankan disini adalah bagaimana cara memperoleh prosentasi keuntungan yang maksimal dengan mempertimbangkan pilihan-pilihan yang terbentang di depan mata ataupun di balik layar pemasaran,
- Kemudian, jam kerja yang fleksibel memungkinkan kita bisa melaksanakan pekerjaan lain tanpa harus terbebani.
Menjadi enterpreneur merupakan sesuatu hal yang layak dan baik untuk dicoba. Tolak ukur keberhasilan suatu enterpreneur juga terletak pada spesialisasi bidang yang dipilih. Semakin mampu enterpreneur menyediakan produk yang inovatif dan belum ada sebelumnya, maka semakin besar pula peluang suksesnya usaha tersebut. Bidang usaha yang belum ada sebelumnya ini akan menjadikan usaha tersebut sebuah pioner. Terlebih jika produk tersebut disertai dengan kreativitas dan tampilan yang menarik. Dalam kondisi yang seperti ini, produk pioner ini bisa mendapat brand awareness yang tinggi dari masyarakat.
Ada banyak contoh Enterpreneur yang berhasil menapaki pilihannya. Misalnya saja, Mustika Ratu. Mustika Ratu dan ibu Mooryati Sudibyo tidak pernah bisa dipisahkan begitu saja. Sebagai pakar dan pelaku industri jamu terkemuka di Indonesia yang diakui dunia internasional, jamu ramuan beliau mampu disejajarkan dengan obat-obatan klinis buatan industri farmasi. Sebagai cucu dari Sri Susuhan Pakubuwono X dari Keraton Surakarta Hadiningrat, beliau telah sedari kecil mempelajari seni meracik jamu dan perawatan kesehatan dan kecantikan tradisional menggunakan bahan dasar alam. Beliau melihat bahwa jamu bermanfaat untuk prefentif, promotif, curatif, dan rehabilitatif. Jamu yang dibuat diibaratkan sebagai makanan sehari-hari yang merawat dan mempertahankan energi badan yang vital dan membantu badan untuk mengobati dirinya secara alami. Setelah menikah, kehidupan beliau lebih banyak dihabiskan dengan waktu kosong. Dari sinilah muncul ide untuk mengisi waktu luang dan juga karena hobi, memulai meracik jamu dan memasarkannya secara sederhana dahulu dengan membagikannya kepada istri sejawat suaminya. Kewalahan menerima pesanan, bersama dua temannya, beliau mulai berkonsentrasi penuh membuat jamu dengan modal awal Rp 25.000 melalui industri rumahan pada tahun 1973. Beliau harus merelakan garasi rumahnya dipenuhi dengan bahan baku jamu dan wewangian jamu yang menyebar keluar rumahnya. Secara bertahap, beliau mulai membeli mesin kecil pembuatan pil dari Taiwan. Dua tahun kemudian, beliau resmi mendirikan PT Mustika Ratu sebagai payung perusahaannya. Ilmu yang dimiliki beliau tidak disimpan begitu saja. Secara bertahap, perusahaannya meracik lima model jamu dan pada saat yang bersamaan pula beliau mewariskan pengetahuan dan pengalamannya membuat jamu kepada ahli kecantikan, pemilik salon dan sanggar-sanggar. Pada tahun 1978, jamu mulai distribusikan ke toko-toko dan beberapa kenalannya sebagai agen pemasaran; dan pada awal 1980-an Mustika ratu mulai melakukan ekspansi dengan memasarkan produk kosmetik menggunakan bahan tradisional.
Pendirian perusahaan ini tidak bisa dipungkiri mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Semenjak awal berdirinya yang hanya mempekerjakan 150 orang, PT Mustika Ratu telah berkembang sangat pesat. Saat ini saja, tidak lebih dari empat anak perusahaan mengayomi produksi jamu itu sendiri dan sudah lebih dari 57 jamu dipasarkan. Prestasi beliau sebagai enterpreneur tidak berhenti begitu saja, perusahaannya saja kini telah menjadi pemegang hak franchais Miss Universe, Miss World, dan Miss World University serta Yayasan Putri Indonesia. Selain itu, beliau juga giat untuk membagi ilmunya dengan mengarang buku. Sudah empat buku yang dihasilkan dan semuanya sarat dengan ciri khas Indonesia, baik dalam hal busana ataupun alam tropisnya. Menjadi pemimpin perusahaan bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itu beliau mencoba untuk membagi pahit manis kehidupan kepada lima orang anaknya. Dan cara beliau mempekerjakan anaknya sama dengan beliau mempekerjakan orang lain, tidak ada yang diistimewakan.
Kami melihat bahwa Mustika Ratu merupakan contoh enterpreneur yang berhasil. Kami melihat bahwa beliau memiliki value seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya. Beliau merintis usaha dengan semangat yang besar, tidak pantang menyerah. Sikap persistant ini juga menjadi motivasi bagi para pekerjanya untuk lebih giat lagi. Hal ini terlihat dalam motto beliau dalam memimpin, yaitu mampu mengatur pekerjanya agar menjadi produktif dan tidak mengalami demotivator yang drastis. Selain itu beliau juga membina hubungan yang baik dengan pekerjanya dengan menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Artinya, beliau sangat terbuka terhadap kritikan dan masukan. Sehingga, adalah merupakan hal yang layak apabila ibu Bray Mooryati Soedibyo ini menerima anugerah “Best of The Best Enterpreneur of the Year dari Ernest & Young”.
Jujur, diantara kita semua tidak ada yang pernah secara langsung mencoba bidang enterpreneur tersebut. Bukan karena tidak memiliki kemampuan modal, pemikir dan pekerja; -kita semua punya kemampuan itu- akan tetapi permasalahannya terletak pada jiwa senang-senang kami yang masih menempati urutan pertama dibandingkan niat untuk mencoba berwirausaha dulu. Tetapi kini, kami semua tertarik dan sangat ingin mencobanya. Beberapa enterpreneur pun sudah kami wawancarai untuk melihat seberapa besar peluang untuk memulai wirausaha. Peluang-peluang apa yang bisa didapat serta tantangan apa yang harus dihadapi.
Mimpi yang ingin kami wujudkan dalam memapaki bidang enterpeneur adalah dengan membuka “Rumah Cewek”. Jasa yang ingin ditawarkan lebih kepada “female consultant“. Disini kami ingin mengangkat tema mengenai bagaimana kita sebagai wanita ingin memanjakan diri kita dengan mengerti dan memahami kebutuhan-kebutuhan wanita, baik dalam hal reproduksi, kesehatan alat reproduksi, ataupun permasalahan wanita di saat sedang datang bulan sebagai salah satu special service kami. Banyak wanita cenderung tabu dan malu untuk membicarakan mengenai kebersihan alat reproduksinya. Atau, seringkali wanita menghadapi kendala PMS, dan hilang percaya diri karena jerawat. Kami ingin membagi pengetahuan, dan memberikan solusi atas permasalahan wanita yang dihadapi.
Berkaitan dengan isu yang sedang hangat saat ini, yaitu penanaman silikon di bagian tertentu dari tubuh wanita, melalui female consultant, kita ingin memberitahukan akan bahaya dari penanaman silikon cair tanpa melalui konsultasi dokter. Selain itu, permasalahan bau badan, sex education, kebersihan daerah “V”, penyakit yang pada umumnya dialami wanita seperti kanker payudara, kanker rahim, dan lain sebagainya; juga akan menjadi perhatian kita di dalam female consultant ini.
Contoh program acara special service yang ingin kami laksanakan antara lain:
- Sport doesn’t hurt : disini kami ingin mengajak wanita-wanita yang sedang menstruasi untuk tidak melupakan arti penting olahraga. Kami ingin memberikan pemahaman, bahwa saat wanita menstruasi, olahraga bukanlah hal yang pantang untuk dilakukan (kerena berbagai anggapan bahwa berolahraga saat menstruasi dapat menyebabkan ”turun rahim”). Justru olahraga ini baik dilakukan karena dapat memperlancar siklus menstruasi itu sendiri. Olahraga yang dimaksud bukan seperti jogging biasa, melainkan lebih terkonsentrasi pada bagian perut wanita yang seringkali menjadi masalah saat menstruasi, seperti sakit ataupun kram perut. Kita akan mendatangkan instruktur olahraga yang juga didampingi oleh dokter, untuk memberikan jaminan bahwa olahraga ini benar-benar aman dan bermanfaat bagi wanita sedang mengalami menstruasi.
- Care for her: event bulanan yang kami tawarkan tidak lain adalah memberikan fasilitas alat untuk mendapatkan pembalut dengan cara yang mudah dan efisien. Kita mencoba membuat acara ini di kampus dan di pusat perbelanjaan. Dengan alat ini, mahasiswi yang tiba-tiba mendapatkan menstruasi dan tidak membawa pembalut tidak perlu khawatir karena bisa mendapatkan pembalut di toilet kampus hanya dengan memasukkan koin ke dalam alat tersebut. Begitu pula dengan wanita yang sedang berada di pusat perbelanjaan. Mereka hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengatasi masalah tersebut dan dapat dengan tenang menghabiskan waktu belanja mereka.
- Shining your beauty: seringkali wanita yang sedang mengalami menstruasi juga mengalami masalah di wajah, seperti timbulnya jerawat yang mempengaruhi percaya diri dalam beraktifitas. Konsultasi yang diberikan adalah memberikan pengetahuan mengenai cara penjegahan timbulnya jerawat di wajah saat menstruasi seperti makanan apa saja yang memicu timbulnya jerawat dan cara membersihkan muka yang benar.
Alasan kenapa kita memilih female consultant ini adalah kami mencoba berfikir kritis terhadap kenyataan bahwa selama ini jasa konsultasi wanita yang pernah ada selama ini belum begitu memadai. Masih banyak wanita yang ketika sedang menghadapi permasalahan kewanitaan, cencerung bingung untuk berkonsultasi ke siapa. Dan jasa konsultasi tersebut masih jarang ada. Selain itu, female consultant ini memiliki prospek yang sangat cerah, mengingat masalah wanita akan selalu ada. Saat ini saja, jumlah wanita yang ada saat ini saja sudah 4x lebih banyak dari jumlah laki-laki. Hal ini menunjukkan akan permasalahan wanita yang akan semakin kompleks. Bidang ini juga bisa menjadi ajang promosi bagi produk-produk wanita kedepannya. Sekalipun bidang ini belum pernah ada, tetapi kita tidak ragu untuk mencoba, kita tertantang untuk memulai, kita bekerja keras untuk mencoba, dan kita berambisi untuk sukses.
Kami yang terlibat dalam kelompok ini, adalah Dyah Ayu Sitoresmi (Dayu), Rini dan Pratiwi (Tiwi). Berikut ini adalah profile singkat pesonal kami masing-masing serta alasan kenapa kami memilih untuk menjadi satu kelompok.
Dayu, tipikal pemikir dan pekerja yang punya tekad kuat untuk mencoba hal baru. Optimis akan jalan yang dipilih dan yakin untuk menjadi sukses. Kritik yang diutarakan banyak orang akan usaha yang dilakukan tidak pernah menjadikannya patah semangat. Sebaliknya, justru kritik tersebut memacu dirinya untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Tidak pernah patah semangat, adalah istilah yang cocok disandang. Punya pengalaman menjadi koordinator interview untuk mengukur kelayakan kebijakan pemerintah pada otonomi daerah se-Jawa barat. Seringkali diangkat untuk menduduki posisi ketua, tetapi tidak pernah menyia-nyiakan potensi teman-temannya yang bekerjasama dengannya.
Tiwi, seorang mahasiswa ekonomi yang bertanggungjawab, dan akan berusaha keras untuk mengejar impian dan harapannya. Kemampuannya dalam memimpin sebuah organisasi pers di kampus selama 2 tahun membuatnya fleksibel dalam menghadapi berbagai karakter orang. Tidak mudah menyerah dan peduli akan kesulitan orang lain. Oleh karena itu, sangat cocok dalam menangani usaha jasa konsultan ini.
Rini, Dia lahir di kota Palembang pada tanggal 10 Juni 1985. Adalah anak kedua dari 3 bersaudara dan merupakan anak perempuan satu-satunya. Hal ini sedikit banyak ikut mempengaruhi perilakunya yang bisa dikatakan sedikit tomboi. Tapi dia tetap menyadari kodratnya sebagai perempuan dan mulai mengurangi ke-tomboian tersebut. Dia juga sangat concern terhadap masalah wanita terutama yang berhubungan dengan kecantikan tanpa mengenyampingkan masalah pendidikan sebagai hal yang paling utama. Dia pernah menempuh pendidikan Di SD, SLTP Methodist 1 Palembang dan SMU menjalani bangku SMU di SMU Xaverius 1 Palembang. Saat ini dia tengah menempuh jenjang perkuliahan di Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan tercatat sebagai salah satu mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Hubungan Internasional angkatan 2003. Dalam mengerjakan suatu hal, dia akan memberikan yang terbaik yang dapat dia lakukan dan akan dengan serius mengerjakan hal tersebut. Pernah menduduki posisi koordinator dalam kegiatan kampus. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bergerak di bidang enterpreneur membuat dia menyadari bahwa dia memiliki bakat dalam bidang tersebut namun belum mempunyai kesempatan untuk merealisasikannya. Kemampuan beradaptasi dan komunikatif serta supel yang dimilikinya merupakan satu hal yang baik dalam membina hubungan sosialnya.
Kami memilih untuk bekerja di dalam satu tim ini karena kami merasa cocok satu dengan yang lainnya. Kita bertiga merupakan tipikal orang yang open minded, memiliki ambisi yang sama untuk mencapai kesuksesan dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru. Sekalipun masing-masing memiliki kekurangan, tetapi kekurangan itulah yang kami jadikan poin utama untuk saling melengkapi. Rini yang inovator, tetap membutuhkan dorongan untuk mewujudkan impiannya dan hal ini dilengkapi oleh dayu sebagai seorang motivator. Tiwi mampu menjadi penyeimbang diantara kami berdua sebagai konsultan internal dalam setiap perbedaan pendapat yang terjadi. Kami sangat yakin untuk menjalani bidang ini bersama-sama. Karena kami bersama untuk bisa.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Semakin bertambahnya penduduk kota Bandung dari tahun ke tahun, otomatis menimbulkan permasalahan baru mengenai tempat buangan dari sampah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia per harinya. Seperti yang kita ketahui, pada umumnya; sebagian besar sampah yang dihasilkan oleh manusia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Namun, banyaknya sampah yang dihasilkan oleh manusia tersebut seringkali tidak sebanding dengan penyediaan TPA sampah itu sendiri.
Mengapa tidak sebanding? Benturan kepentingan seringkali mewarnai efisiensi dan profitabilitas tempat atau lapangan luas yang tidak berpenghuni. Keinginan untuk mendirikan pusat perbelanjaan lebih besar dibandingkan dengan visibility di masa depan untuk menjadikan sebuah areal kosong sebagai TPA, dan seringkali berbenturan dengan undangan bisnis yang datang dari para investor. Sebut saja di Bandung, hanya ada satu atau dua TPA untuk menampung sampah yang dihasilkan oleh penduduk yang menetap dan pendatang. Akibatnya overloaded sampah pun terjadi, dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit, seperti yang terjadi di TPA Leuwi Gajah beberapa waktu lalu. Lalu upaya seperti apa yang perlu dilakukan untuk mengelolanya supaya kejadian di TPA Leuwi gajah tidak terjadi lagi?
Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengelolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sampah bersifat terpusat (dilakukan oleh dinas kebersihan dan seluruh sampah dibuang ke TPA). Merupakan hal yang sangat sulit untuk hanya mengandalkan pemerintah daerah semata dalam menuntaskan permasalahan sampah di Bandung. Perlu adanya kesadaran dan peran serta masyarakat secara optimal di dalamnya. Maka solusi yang dapat ditawarkan kemudian adalah menerapkan dan mensosialisasikan kembali 4R (reduce, reuse, recycle, replace) ke masyarakat. Sosialisasi tersebut bukan hanya terbatas dengan iklan-iklan semata, melainkan juga dengan penerapan langsung di lingkungan. Tahap-tahap atau mekanisme yang dapat dilakukan antara lain dengan:
- Mensosialisasikan pejabat-pejabat terkait akan pentingnya prinsip dasar 4R,
- Kemudian diturunkan ke tingkat sekolah sebagai lembaga pendidikan. Kecenderungan yang ada adalah anak-anak cenderung lebih mudah untuk “ditulari” informasi yang berguna untuk lingkungan. Mereka akan dengan senang hati mempraktekkannya langsung pertama kali pada lingkungan sekolah; maka dengan sendirinya akan terbawa pada kesehariannya di rumah.
- Sosialisasi pada tingkat pendidikan dilaksanakan berbarengan dengan iklan-iklan di media massa dan elektronik berikut kegunaan 4R dan prakteknya, serta melalui slogan dan poster-poster.
- Selain publikasi, praktek langsungnya adalah dengan memisahkan dan menyediakan 3 jenis tempat sampah yang berbeda sesuai dengan jenis sampah yang dihasilkan. Sampah organik (dedaunan dan sisa makanan), sampah kertas dan kaleng ataupun botol, serta sampah plastik. Jenis tempat sampah ini sudah bisa dilihat di lapangan Sabuga Siliwangi, Bandung. Adapun kegunaan bagi pemisahan sampah tersebut adalah sampah organik bisa ditimbun langsung ke dalam tanah yang nantinya akan sangat berguna bagi pupuk; sampah kertas, kaleng ataupun botol dapat didaur ulang,. Namun yang paling sulit adalah sampah plastik karena tidak bisa didaur ulang. Oleh sebab itu usahakan jika berbelanja bawalah keranjang sendiri ataupun tidak menerima tas plastik.
- Sudah mulai disediakan 3 jenis tempat sampah tersebut di supermarket, atau sebagai pemicu pengunaannya tempat sampah tersebut disediakan di tempat makan, pusat perbelanjaan, perkantoran, ataupun sekolah.
- Jenjang waktunya dilakukan secara bertahap, yaitu satu tahun pertama untuk publikasi, penyuluhan dan penyediaan tempat sampah di tempat-tempat yang mengundang banyak massa. Setelah itu diadakan survei dari reaksi masyarakat dan hasil yang telah didapat. Maka dengan sendirinya proyek besar dan tingkat keberhasilan untuk menerapkan prinsip dasar 4R ini dapat terealisasikan sepenuhnya.
Yang perlu pemerintah daerah lakukan adalah men-support sosialisasi 4R tersebut ke masyarakat, sembari mencari TPA lain pengganti TPA Leuwi Gajah yang sempat longsor. Bagaimanapun juga jika prinsip dasar ini mampu terealisasi, secara tidak langsung juga mampu membantu proses pemilahan sampah tersebut di TPA yang ada. Dalam jangka panjang, disiplin masyarakat yang diprioritaskan sebagai basis penggerak pengelolaan sampah akan terbentuk dengan sendirinya untuk mulai peduli terhadap lingkungan dan diharapkan untuk secara bertahap mampu memecahkan permasalahan sampah di kota Bandung.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Masalah kelangkaan BBM dan masalah subsidi merupakan masalah klasik yang memang selalu menjadi persoalan dalam perjalanan karir ekonomi Indonesia semenjak krisis ekonomi melanda negara ini.
Sebagai negara yang terkenal akan sumber daya alam yang melimpah, sangatlah ironis jika pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri harus selalu mengalami kelangkaan. Belum lagi jika ditambah dengan kondisi pemenuhan kebutuhan BBM yang setiap harinya mencapai 1,2 juta barrel per hari, sedangkan produksinya hanya mampu menyediakan 970 ribu barrel per hari. Sehingga mau tidak mau pemerintah harus mengimpor sisanya untuk memenuhi kebutuhan permintaan dalam negeri.
Akan tetapi permasalahan sebenarnya bukan hanya terletak pada dampak dari kelangkaan tersebut, melainkan juga karena ‘bagaimana Indonesia menjadi langka akan BBM’. BBM sebagai sumber daya yang tidak terbaharukan akan membutuhkan waktu yang sangat panjang agar tetap eksis atau berkelanjutan di dalam perut bumi. Sedangkan kebutuhan masyarakat akan minyak bumi selalu bertambah sedikitnya 6 persen per tahun. Bagaimana mengantisipasi dan membuat kebijakan secara bijak merupakan tanggung jawab pemerintah sebagai public admisnistrator dalam menentukan harga minyak dan pemberian subsidi terhadap harga yang dinilai mematikan pencarian energi alternative pengganti BBM. Mengapa bisa mematikan? Dengan adanya subsidi, masyarakat akan cenderung untuk boros dan mengikuti pola konsumtif. Begitu juga dengan maksud memaksimalisasi profit. Akan semakin banyak jumlah penyelundupan dan pengoplosan. Padahal, cadangan sumber daya energi Indonesia sudah sangat terbatas jika dibandingkan dengan cadangan dunia. “Minyak bumi hanya sekitar 0,5 persen, gas bumi dua persen, dan batubara hanya 3,1 persen”. Demikian diutarakan Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Rachmat Sudibyo pada seminar “Terobosan Alternatif Sumber Energi Non-fosil” di Jakarta, Jumat (15/6). [1] Lalu bagaimana solusi yang tepat dalam menghemat konsumsi BBM untuk tahun-tahun ke depannya? Hal tersebutlah yang akan saya bahas dalam tulisan ini.
Ada beberapa solusi yang bisa dipergunakan dalam menghemat konsumsi BBM. Proses kinerjanya dibagi kedalam tiga tahap dan melibatkan semua elemen masyarakat, baik pejabat maupun rakyat, baik produsen maupun konsumen. Tiga tahap tersebut adalah jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Tiga elemen ini harus saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.
Adanya supply dan demand mengharuskan stok BBM harus selalu ada. Namun pemakaiannya bukan saja harus dihemat, melainkan harus dibatasi. Bukan hanya berupa imbauan saja, melainkan juga ada realisasinya. Penghematan merupakan langkah awal untuk solusi kelangkaan BBM, baik itu melalui pembangunan bus way dengan tujuan agar masyarakat mengurangi penggunaan mobil pribadi, atau hal lainnya. Maka jangka pendeknya adalah penyediaan public transport yang memadai, sehingga masyarakat nyaman untuk menggunakannya.
Sebagai negara pengekspor minyak bumi, naiknya harga minyak yang tinggi akan memberikan windfall yang berarti menambah pendapatan negara secara signifikan.[2] Itu dahulu ketika harga minyak memang masih sekitar 30 US$ per barrel. Sehingga pendapatan dari ekspor masih lebih banyak dibandingkan dengan impor BBM itu sendiri. Kondisi tersebut berubah karena dengan naiknya harga minyak bumi yang sangat tinggi menjadi 70 US$ per barrel diikuti dengan melemahnya rupiah terhadap dollar, subsidi BBM juga meningkat. Untuk tahun 2005 ini saja, kemungkinan subsidi yang harus dikeluarkan oleh pemerintah bisa mencapai Rp. 155 triliun. Hal ini tentunya sangat memberatkan rakyat. Jangka menengah yang pemerintah harus lakukan adalah menghapus secara bertahap subsidi BBM tersebut; mengingat yang mensubsidi BBM sebenarnya adalah rakyat yang memiliki “akses” terbatas kepada pengguna BBM.[3] Maksudnya adalah rakyat miskin yang secara sadar dan tidak sadar memberikan haknya kepada rakyat kaya dalam penggunaan BBM. Namun seiring dengan penghapusan subsidi, dana kompensasi yang seyogyanya sudah diluncurkan ke masyarakat untuk menurunkan angka kemiskinan juga harus segera diimplementasikan. Jangan hanya menyebarkan wacana ke publik, sedangkan prosesnya baru mulai dibahas oleh departemen terkait dan rakyat penerima kompensasi baru mulai dihitung. Sampai kapanpun hal tesebut tidak akan pernah selesai. Atau mengutip perkataan Prof. Manuel Castells “ if the theory doesn’t fit with the reality on the field, then the theory is wrong”. Jika keadaannya sudah demikian, jangan pernah memaksakan teori tersebut.
Jangka panjangnya adalah, ketika kita melaksanakan program jangka pendek dan menengah, kita juga berfikir untuk menggantikan BBM tersebut dengan sumberdaya lain. Sehingga ketika dua jangka waktu tersebut telah terpenuhi, maka kita dapat langsung melaksanakan jangka panjangnya. Atau jika sanggup untuk dilakukan, semuanya dilaksanakan secara bersamaan, hanya waktu penyelesaiannya saja yang berbeda.
Sumber daya yang dimaksud tidak lain adalah biomassa seperti alkohol, batu bara, ataupun energi matahari. Untuk bahan bakar alcohol, Eropa, AS, Jerman, Swedia, Selandia Baru, Filipina, dan Thailand sudah melakukannya. Mengapa kita tidak melakukan hal yang sama? Butuh riset lagi?? Dengan sangat senang hati bagi negara yang sudah mempraktekkannya untuk berbagi pengalaman dengan kita sekaligus bisa mempererat kerjasama bagi Indonesia dengan negara tersebut. Atau alternative lainnya seperti yang diusulkan oleh Bambang S. Budi[4] mengenai perencanaan Kota Kompak yang sangat mengedepankan pembangunan kota secara vertical disesuaikan dengan kondisi wilayah dan budaya masing-masing.
Dari solusi yang ada, menghambat proses kehilangan BBM merupakan hal yang harus menjadi prioritas utama pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan untuk mengantisipasi persoalan yang ada. Jangan selalu mengandalkan subsidi sebagai satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan ini karena suatu saat justru akan menjadi bom waktu bagi negara Indonesia ke depannya.
[1] Subsidi BBM hambat bahan baker alternative, kompas, sabtu 16 juli 2001
[2] Penghematan di era krisis BBM, fajar online 12 juli 2005
[3] Nova Yoshendri, The Necessity To Eliminate Fuel Subsidies As A Challenge For The New Government. Kompas, 29 oktober 2004.
[4] Staf pengajar departemen arsitektur ITB dan kandidat Doktor arsitektur diToyohashi University of Technology, Jepang. Essainya yang berjudul “Krisis Energi Dan Perencanaan Kota Kompak” di publikasikan pada berita IPTEK,senin 8 Agustus 2005.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Marilah kita melirik sedikit mengenai apa yang ada di Korea, apa yang orang tahu tentang Korea, dan apa yang menjadikan Korea sebagai bangsa yang dihargai oleh masyarakat di dunia, maupun oleh masyarakat Korea sendiri.
Sejarah kuno di Korea membuktikan bahwa bangsa ini pada awalnya dibentuk oleh komunitas-komunitas suku yang menyatu membentuk berbagai negara-kota kecil. Negara-kota ini timbul dan tenggelam pada masanya. Ada tiga kerajaan yang berjaya pada awal abad SM, yaitu kerajaan Koguryo, Paekche dan Shilla.[1] Kerajaan Shilla merupakan titik awal berkembangnya kebudayaan di Korea. Pengaruh agama Budha yang meluas, ikut mewarnai seni bangunan yang terdapat hampir di setiap kuil, maupun seni yang menghiasi bangunannya. Sesuai ciri khas pengaruh agama Budha, masyarakat pada jaman tersebut juga membagi kehidupan sosial mereka berdasarkan kelas atau kasta, yang mana kelas tingkat menengahnya didukung oleh kaum aristokrat.
Kerajaan Koguryo memulai jaman keemasannya pada tahun 918-1392. Pada jaman ini, Pemerintah Korea mulai menyusun hukum pemerintahan dan memperkenalkan pada masyarakat mengenai sistem jasa. Selama masa itu pulalah agama Budha berkembang dengan cepat di sepanjang semenanjung Korea. Pemerintahan pada jaman ini mendapat pengaruh yang sangat besar dari kerajaan Mongol, Cina. Mengapa? Karena setelah Mongol menginvasi Korea pada tahun 1231, banyak keluarga yang berkuasa di dalamnya melarikan diri ke pulau Kanghwa, dekat kota Seoul. Pada tahun 1231 secara umum, Song-gye Yi, dikirim ke Cina untuk melawan pengaruh Ming tersebut. Namun pada kenyataannya ia justru bergabung dengan kerajaan Cina dan berbalik melawan Raja Korea, dan mendirikan kerajaannya sendiri. Dan selama masa itu pulalah, seni membuat keramik celadon berkembang di Korea.
Kekuasaan dinasti Yi, mengubah kota yang didudukinya menjadi Hanyang-gun (sekarang Seoul) pada tahun 1394 dan mulai menerapkan konfusianisme sebagai agama resmi negara, dan sebaliknya agama Budha menjadi kehilangan pengaruhnya. Seiring dengan perkembangannya, dan setelah kemerdekaan diperoleh oleh negara Korea; perkembangan dari agama itu sendiri mengalami kemajuan yang sangat pesat. Sampai hari ini, masyarakat Korea sudah didiami oleh sekitar 300 agamis yang mendominasi beberapa daerah. Hal menarik yang perlu ditelaah adalah keanekaragaman agama yang dianut tersebut, tidak menjadikan proses sosialisasi di dalam masyarakatnya terhambat; melainkan ikut menumbuhkan dan mempererat akar kebudayaan yang telah lama ada.
Berdasarkan letak georafisnya, Jepang dan Cina merupakan negara terdekat dan terkuat yang mampu membuat perubahan dalam kebudayaan Korea. Namun pada kenyataannya, kebudayaan Korea itu sendiri, tetap dipertahankan dengan baik oleh masyarakatnya, sebagaimana layaknya pengaruh yang datang dari negara sekitarnya. Salah satu contohnya adalah berbagai macam musik tradisional. Musik tradisional seperti Jeongak yang bernuansa sendu dan Minsogak yang penuh emosi dan ekspresi; didukung oleh beragam alat musik seperti suling berbentuk silinder (piri), taepyeongso, terompet (daegeum) dan danso, organ mulut (saenghwang), serta hun; membuat musik tersebut menjadi menarik untuk didengarkan. Tradisional perkusi seperti gong (kkwaenggwari), drum (buk), ataupun alat musik string tradisional gayageu, dan geomungo, juga membuat kharakteristik dari musik tradisional Korea tersebut menjadi penuh improvisasi.
Kebanggaan lain terhadap budaya yang dimiliki tercermin dalam tradisi yang diadakan setiap awal bulan kalender Jeongwol dan libur besar, tersebut merupakan Seollal dan Daeboreum; yang diperingati setiap tanggal 15. Pesta rakyat ini begitu dinanti-nantikan oleh seluruh rakyat Korea; dan bentuk partisipasinya adalah dengan mengenakan pakaian khas Korea serta bermain games ala Korea, seperti yut, tuho, seesawing, hwaetbulssaum, dan jwibullori. Identitas bangsa yang kuat tersebut, didukung pula oleh upaya Pemerintahnya dalam melestarikan segala bentuk peninggalan sejarah. Tidak ada satupun peninggalan leluhur yang diabaikan.
Bagaimana dengan tempat pariwisata? Semenanjung Korea dikelilingi oleh banyak pegunungan dan sungai yang sangat indah. Orang-orang Korea menamakan tempat mereka sebagai “dataran yang dihiasi sulaman emas”.[2] Di sisi lainnya, banyak sekali tempat yang menarik dan bersejarah yang patut untuk dikunjungi. Lingkungannya yang bersih, tertata dengan baik, ataupun pemandangan alamnya; ikut mendukung daya tarik tempat-tempat tersebut. Contohnya adalah The Pavilions of Hamyang, yang dikelilingi dengan pemandangan alam yang menakjubkan dan merupakan cerminan dari kehidupan pelajar pada jaman dahulu. Area dari Seosang-myeon, Hamyang-gun, dan provinsi Gyeosangnam-do, terkenal sebagai ‘harta karun yang terpendam’; dan juga mewakilkan kebudayaan sarim yang merupakan cerminan dari periode tengah Joseon (abad ke -16).[3] Di periode Joseon ini cukup banyak hasil karya intelektual tercipta oleh kaum-kaum pemikir yang terdiri dari pemilik pekerja kelas rendah dan menengah. The Pavilions of Hamyang juga mampu menghadirkan ‘kesan’ damai, terutama ketika musim salju tiba; di mana hamparan sungai kecil yang dikelilingi dengan batu-batu bertutupkan salju dan juga air yang bersih, mendominasi pemandangannya.
Kebanggaan yang sama juga tercermin dari pesatnya pembangunan ekonomi, teknologi dan pendidikan. Hal ini terlihat dari mulai bersaingnya produk-produk buatan Korea dengan Jepang ataupun China, dan mulai sejajarnya Korea denagn dengan negara sekitarnya. Permulaan yang dimainkan dengan sangat baik oleh rakyat Korea, dengan kepeduliannya terhadap masalah pendidikan.. Anak-anak memulai enam tahun pendidikan dasar sejak usia 6 tahun. Setelah tiga tahun sekolah menengah pertama dan atas, mereka dapat melanjutkan pendidikan tinggi selama empat tahun. Para pelajar harus menempuh ujian nasional sebelum memasuki sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, dan 30% lulusan sekolah menengah atas diterima di perguruan tinggi. Sulitnya ujian masuk dan ketatnya persaingan menyebabkan momen ini sering disebut sebagai “Perang Perebutan Tempat”.[4] Oleh karena itu, bukan hal yang mengagetkan apabila pesatnya kemajuan ekonomi di Korea adalah juga karena keuletan rakyatnya, dan kemauan rakyatnya untuk ikut maju.
Melihat perkembangan sejarah, kebudayaan dan tempat pariwisata yang dipertahankan dengan baik oleh masyarakat dan pemerintahnya; tak jarang membuat iri Negara lain, terutama Negara yang juga memiliki keanekaragaman budaya, bahasa dan tempat pariwisata. Kalau kita mau membandingkan keanekaragaman tersebut dengan apa yang kita miliki di tanah air, adalah hal yang sangat mengkin untuk diwujudkan. Untuk sejenak berpaling, marilah kita tengok kembali apa yang tanah air kita punya, yang kita banggakan dan yang juga masyarakat kita pertahankan.
Suku yang bervariasi dan mendiami banyak pelosok-pelosok daerah Indonesia ini didukung dengan bahasa dan tingkat kebudayaan yang tidak boleh dikatakan primitif, karena disalah satu sisi dari kebudayaan yang mereka pertahankan, ada banyak tingkat penamaan silsilah keluarga yang tidak dimiliki oleh masyarakat yang mendiami Negara paling modern sekalipun. Atau mengenai tempat pariwisata. Indonesia terkenal dengan Borobudur, salah satu dari tujuh keajaiban dunia, yang sudah dipertahankan turun menurun oleh masyarakat Indonesia. Masih sangat banyak keanekagaraman yang memang tidak bisa disebutkan satu persatu di tanah air ini. Tapi yang menjadi perbedaan adalah kemauan untuk mengelola dan menjadikan kebanggaan tersebut diakui oleh negara lain, beserta kemampuan untuk mengolah sumber daya tersebut menjadi kekuatan besar yang mampu menopang keadaan ekonomi suatu Negara.
Setelah melihat dan memperhatikan mengenai perbedaan budaya, masyarakat, dan keadaan ekonominya dari Korea dan Indonesia, kita dapat melihat bahwa identitas bangsa yang sangat ‘kental’, mampu menciptakan suatu perbedaan yang membanggakan untuk ditunjukkan. Akankah tanah air tercinta kita mampu memiliki tingkat kebanggaan yang sama, yang menunjukkan kredibilitasnya sebagai suatu bangsa? Dan untuk ditunjukkan kepada negara lain bahwa kita juga punya banyak tempat wisata ataupun budaya lokal yang tidak kalah seru dan menariknya dengan Korea? Semoga.
[1]A\ History of Korea, part I.htm.
[2] A\lampungonline_com.htm
[3] Korea pictorial, February 2004
[4] ibid